BERITA
Selasa 28 Juli 2020 | 14:00 WIB
Sadar Bahaya Penyakit, Sadar Berasuransi


Menurut sebuah catatan yang kami kutip pada 22 Juli 2020 lalu, jumlah penderita positif Covid 19 di Indonesia sudah mencapai 84.882 orang. Lebih tinggi dari Tiongkok yang 83.644 orang. Tambah membuat sedih, karena jumlah itu didapat dari jumlah tes yang dilakukan sebanyak 1.210.000. Bandingkan dengan tes di Tiongkok hingga waktu yang sama, yang sudah dilakukan sebanyak 90.410.00 kali. Bayangkan berapa jumlah yang kemungkinan didapat bila Indonesia melakukan jumlah tes yang sama.

Tingkat penyebaran terbesar dan jumlah positif terbesar adalah Jakarta, seperti terlihat di foto terlampir yang sesuai dengan catatan terakhir pada 20 Juli 2020 (kami kutip dari Kompas.com). Jakarta Utara mencatatkan akumulasi kasus positif Covid-19 melebihi 2000 sejak 16 Juli 2020. Sebelumnya, Jakarta Barat dan Jakarta Pusat melewati angka itu sejak 10 Juli 2020, sementara Jakarta Timur sejak 13 Juli 2020. Jakarta Pusat menjadi kota administratif dengan akumulasi kasus positif Covid-19 terbanyak di Ibu Kota pada saat ini

Ilustrasi sebaran dan kepadatan penderita positif Covid 19 di Jakarta (data terakhir, awal Juli 2020). Jumlah kasus positif ada 17.153,.dan meninggal dunia 758 (sumber : Kompas.com).

 

Hal yang cukup mengagetkan, menurut pemerintah kenaikan jumlah penderita ini datang dari kantor, seiring dengan sudah aktifnya kegiatan di hampir semua kantor. Ini tentu ironis, bagaimana orang yang punya tujuan mulia, bekerja demi keluarga di kantor.

Artikel ini bukan bermaksud ‘menakut nakuti, tetapi hanya sekedar mengingatkan sekalian mengetuk hati anda untuk kian peduli akan ancaman aneka penyebab penyakit, baik virus atau bakteri dan lain lain, khususnya ketika anda harus bepergian keluar rumah, dan ketika kembali ke rumah. Anda juga punya porsi tanggung jawab untuk memberi nasihat atau memperingatkan siapa pun yang anda jumpai, terlebih mereka yang terlihat tidak memakai alat pengaman seperti yang seringkali sudah diberikan pemerintah.

Ingatlah bahwa kita ini punya risiko terkena penyakit apapun, terlebih yang datang dari makanan atau minuman yang bisa saja tercemar. Betapapun kita berpikir sudah aman, dan berkumpul bersama keluarga besar kita, disitu risiko tetap mengintai. Karena kita tidak tahu bagaimana riwayat kepedulian saudara atau teman kita, bahkan kita sendiri. Jika arah bicara kita kepada Covid 19, tentu istilah ‘carrier’ model OTG (Orang Tanpa Gejala), dimana si pembawa virus ini suhu badan normal dan tidak batuk, tetapi sayangnya dia tidak menyadari bahwa ada virus menempel pada dirinya dan bisa lompat ke orang lain, dimana bila orang ini tidak terlalu kuat kondisi fisik dan psikisnya, bisa terkena.

Masih beruntung bila penderita ini diketahui, karena dia akan segera di isolasi di rumah sakit. Dan mereka yang pernah mengobrol dengannya harus juga diperiksa. Bayangkan, berapa orang dalam keluarga anda harus menjalani Swab test. Namun masih lebih baik ketimbang bila dia tidak diketahui terkena.

Inilah yang kita duga bersama sebagai penyebabnya, yakni masih rendahnya kesadaran sebagian orang Indonesia akan kesehatan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Masih banyak yang memutuskan untuk sepakat atau dadakan berkumpul, mengobrol dari jarak sangat dekat dengan pola dan cara seperti ketika jamannya belum ada virus ini. Berkegiatan seperti di pasar, mal, café, pinggiran jalan, bahkan di rumah -seperti biasa saja. Hal ini sungguh disayangkan. Padahal sudah ada peraturan keras yang bisa mengancam mereka dengan denda ratusan ribu rupiah jika tertangkap tidak memakai masker di luar rumah. Walau masih belum memperlihatkan bagaimana hasilnya hukum denda ini, tetap lebih baik ketimbang tidak dikerasi dengan hukuman.

Ancaman sangsi ini tentu bertujuan baik, terlebih kini ada lagi keyakinan baru yang mengatakan bahwa virus ini kini tidak lagi ditularkan melalui droplet (cairan berisi virus dari batuk atau bersin), tetapi bisa melayang di udara hingga 8 jam setelah keluar dari tubuh penderita saat dia bersin atau batuk. Dia tidak lagi butuh medium cairan untuk bertahan. Apalagi bila di ruang tertutup, dia lebih lama lagi tahan dan lebih cepat mendarat di tubuh orang yang belum terkena.

Seyogyanya, kita juga perlu mengembangkan sikap ‘curiga’ terhadap diri sendiri, dengan bertanya, “Jangan jangan ada kuman dalam diriku”. Khususnya ketika baru saja berada di kawasan yang berpotensial besar (jika Covid 19, yakni daerah merah). Dan tidak hanya Covid,bakteri atau virus lainnya pun perlu anda curigai, terlebih bila setelah bertemu orang yang menderita penyakit tersebut. Patuhi protokol Kesehatan seperti yang dianjurkan pemerintah, dan patuhi peraturan yang ada.

Sedapat mungkin melakukan pengecekan bagaimana kondisi kesehatan anda serta apa saja ancaman di dalamnya. Lindungi diri anda dengan asuransi kesehatan, yang siap menanggung kewajiban finansial di rumah sakit manakala anda terkena penyakit. Ada Medi+ (Mediplus) dari Asuransi ACA yang bisa anda andalkan, misalnya untuk fasilitas rawat inap, rawat jalan, dokter gigi, baik pribadi maupun perusahaan (untuk karyawannya). Hubungi segera call center ACA di 021 31999100.

Mari mengenal ACA dengan segenap produk produk asuransi perlindungannya di www.aca.co.id.

Dengan begitu banyaknya jenis dan sumber penyakit yang bermunculan belakangan ini (kabar terakhir, ada lagi ancaman penyakit bernama Flu Babi, yang kini tersebar luas di Tiongkok), seyogyanya membuat kita kian sadar berasuransi. Dengan memiliki polis asuransi ACA, berarti anda peduli, sama seperti ACA yang peduli anda.

(Gt)